Konferensi internasional bertajuk Broadening the Horizons of Metropolitan John Zizioulas’s Theology berlangsung pada 15–18 Oktober 2026 di Biara Dormition of the Most Holy Theotokos, Hildesheim, Jerman. Pertemuan ini mengkaji kembali warisan teologi John Zizioulas dan relevansinya bagi gereja serta masyarakat kontemporer.
Konferensi tersebut diselenggarakan oleh John Zizioulas Foundation dengan dukungan dan keterlibatan Keuskupan Ortodoks Serbia di Jerman. Pertemuan ini mempertemukan rohaniwan, teolog, dan akademisi dari tradisi Ortodoks, Katolik Roma, Protestan, serta Anglikan.
Keragaman tradisi yang hadir menunjukkan bahwa pemikiran Zizioulas dibaca melampaui batas satu denominasi. Pembahasan tidak berhenti pada sejarah pemikiran seorang teolog, tetapi diarahkan untuk melihat bagaimana gagasan-gagasannya dapat membantu gereja memahami tantangan teologis, sosial, dan kebudayaan pada masa kini.
Memperluas pembacaan atas warisan Zizioulas
John Zizioulas, yang dikenal sebagai Metropolitan Pergamon, hidup pada 1931–2023. Ia dipandang sebagai salah satu tokoh penting dalam teologi Ortodoks modern dan gerakan ekumenis. Kontribusinya banyak dikaitkan dengan pembahasan mengenai gereja, relasi, persatuan Kristen, dan kehidupan bersama dalam komunitas iman.
Melalui tema konferensi, para peserta diarahkan untuk memperluas cakrawala pembacaan terhadap teologi John Zizioulas. Warisan pemikirannya ditempatkan dalam percakapan lintas tradisi dan dihubungkan dengan persoalan yang dihadapi gereja serta masyarakat kontemporer.
Pendekatan ini penting bagi pendidikan teologi karena menunjukkan bahwa karya seorang teolog dapat terus dikaji secara kritis setelah masa hidupnya. Pemikiran teologis tidak hanya diwariskan sebagai gagasan yang selesai, tetapi juga diuji kembali melalui perubahan konteks, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kebutuhan gereja.
Eklesiologi dan persatuan Kristen
Salah satu ruang pembahasan konferensi adalah eklesiologi, yakni refleksi teologis mengenai hakikat, kehidupan, dan panggilan gereja. Pemikiran Zizioulas dibaca dalam kaitannya dengan pertanyaan tentang bagaimana gereja memahami identitasnya serta bagaimana kehidupan gerejawi membentuk relasi di antara umat.
Agenda tersebut juga mencakup isu persatuan Kristen. Kehadiran peserta dari tradisi Ortodoks, Katolik Roma, Protestan, dan Anglikan memberi ruang bagi percakapan ekumenis yang lebih luas. Dalam konteks ini, teologi John Zizioulas menjadi bagian dari dialog untuk memahami kemungkinan kerja sama dan kesaksian bersama di tengah keberagaman gereja.
Pertemuan lintas tradisi semacam ini tidak menghapus perbedaan teologis yang ada. Sebaliknya, konferensi menyediakan ruang untuk memperjumpakan berbagai pendekatan dan menilai kembali sumbangan pemikiran Zizioulas bagi percakapan mengenai gereja dan persatuan umat Kristen.
Menghubungkan teologi dengan tantangan kontemporer
Selain eklesiologi dan persatuan Kristen, konferensi membahas hubungan warisan Zizioulas dengan kebebasan dan martabat manusia. Dua isu ini menempatkan refleksi teologis dalam kaitan langsung dengan cara manusia dipahami, dihargai, dan diperlakukan dalam kehidupan bersama.
Agenda pembahasan juga mencakup ekologi. Isu lingkungan hidup mendorong gereja dan komunitas teologi untuk mempertimbangkan kembali relasi manusia dengan ciptaan. Dengan memasukkan ekologi dalam cakupan konferensi, warisan teologi Zizioulas dibaca dalam kaitannya dengan tanggung jawab manusia terhadap dunia yang menjadi tempat hidup bersama.
Topik lain yang diangkat adalah kecerdasan buatan, seni, sains, dan teknologi. Perluasan isu ini memperlihatkan bahwa konferensi tidak membatasi teologi pada perdebatan internal gereja. Teologi juga dipertemukan dengan perkembangan budaya dan pengetahuan yang memengaruhi cara manusia bekerja, berkomunikasi, mencipta, dan memahami masa depan.
Pembahasan mengenai kecerdasan buatan, misalnya, menempatkan refleksi teologis berhadapan dengan perubahan teknologi yang semakin berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, percakapan dengan seni, sains, dan teknologi membuka kemungkinan untuk melihat hubungan antara iman, kreativitas, pengetahuan, dan tanggung jawab manusia secara lebih luas.
Pesan Ekumenis Patriark Bartholomew
Pesan Ekumenis Patriark Bartholomew turut disampaikan kepada para peserta konferensi. Kehadiran pesan tersebut menegaskan dimensi ekumenis dari pertemuan yang membahas warisan salah satu tokoh penting teologi Ortodoks dan gerakan ekumenis.
Menurut laporan World Council of Churches, pertemuan ini bertujuan mengeksplorasi relevansi pemikiran Zizioulas bagi teologi, gereja, dan masyarakat kontemporer. Tujuan tersebut sejalan dengan cakupan agenda konferensi yang mempertemukan refleksi teologis dengan isu kemanusiaan, lingkungan, kebudayaan, dan perkembangan teknologi.
Relevansi bagi pendidikan teologi
Bagi lembaga pendidikan teologi, konferensi di Hildesheim memberikan gambaran mengenai pentingnya membaca teologi secara kontekstual dan dialogis. Kajian terhadap seorang teolog tidak hanya dilakukan dengan mengulang gagasan utama, tetapi juga dengan menilai daya jelajahnya ketika berhadapan dengan persoalan baru.
Warisan teologi John Zizioulas dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami hubungan antara identitas gereja, kehidupan komunitas, dan panggilan ekumenis. Pada saat yang sama, keterkaitannya dengan martabat manusia, ekologi, kecerdasan buatan, seni, sains, dan teknologi menunjukkan bahwa pendidikan teologi perlu memberi ruang bagi percakapan lintas bidang.
Pendekatan tersebut membantu mahasiswa dan komunitas gereja melihat teologi sebagai refleksi iman yang berakar dalam tradisi, tetapi tetap terbuka terhadap pertanyaan yang muncul dalam konteks baru. Percakapan lintas tradisi juga dapat memperkaya cara gereja memahami perbedaan, membangun relasi, dan mencari bentuk kesaksian bersama.
Konferensi internasional di Hildesheim dengan demikian menjadi forum untuk mengembangkan pembacaan atas pemikiran Zizioulas, bukan sekadar mengenang kontribusinya. Dengan mempertemukan berbagai tradisi Kristen dan isu-isu kontemporer, pertemuan ini menempatkan teologi John Zizioulas dalam percakapan yang lebih luas mengenai masa depan gereja dan tanggung jawabnya di tengah dunia.