Berita Kampus

Doa Ekumenis di Yerevan Mengiringi COP17 Keanekaragaman Hayati

30 Oktober 2026 Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta

YEREVAN, Armenia — Delegasi ekumenis World Council of Churches (WCC) bertemu dengan Karekin II, Patriark Tertinggi dan Katolikos Seluruh Armenia, pada 25 Oktober 2026. Pertemuan di Mother See of Holy Etchmiadzin itu berlangsung di tengah partisipasi WCC dalam Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati atau COP17 di Yerevan.

Pada malam hari yang sama, WCC bersama Gereja Apostolik Armenia dan perwakilan Faiths for Biodiversity Coalition menyelenggarakan doa ekumenis di Gereja St. Anna, Yerevan. Ibadah tersebut mempertemukan komunitas lokal, kaum muda, peserta COP17, serta perwakilan dari berbagai tradisi iman.

Rangkaian pertemuan dan doa ini memperlihatkan keterlibatan gereja dalam menyuarakan perhatian terhadap krisis ekologi global. Gereja hadir bukan untuk menggantikan proses negosiasi antarnegara dalam COP17, melainkan untuk menegaskan dimensi spiritual, moral, dan kemanusiaan dari tanggung jawab merawat ciptaan.

Pertemuan dengan pemimpin Gereja Apostolik Armenia

Dalam pertemuan dengan delegasi WCC, Karekin II menekankan tanggung jawab manusia untuk menjaga ciptaan. Pesan tersebut ditempatkan dalam konteks berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi dunia, termasuk perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Menurut pokok pembahasan pertemuan itu, nilai spiritual dan moral memiliki arti penting dalam merespons persoalan ekologis. Krisis lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kebijakan, ilmu pengetahuan, atau pengelolaan sumber daya, tetapi juga dengan cara manusia memahami relasinya dengan ciptaan dan tanggung jawabnya terhadap kehidupan.

Pertemuan di Mother See of Holy Etchmiadzin menjadi bagian dari kehadiran ekumenis WCC dalam COP17. Kehadiran tersebut menghubungkan perhatian gereja terhadap kelestarian ciptaan dengan agenda global mengenai keanekaragaman hayati.

Doa ekumenis di Gereja St. Anna

Doa ekumenis pada malam 25 Oktober menjadi ruang bersama bagi komunitas iman dan para peserta konferensi. WCC, Gereja Apostolik Armenia, dan Faiths for Biodiversity Coalition mengambil bagian dalam penyelenggaraan ibadah tersebut.

Selain melibatkan perwakilan organisasi dan gereja, doa itu diikuti komunitas lokal, kaum muda, peserta COP17, dan perwakilan berbagai denominasi serta tradisi iman. Keterlibatan yang beragam ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap keanekaragaman hayati dapat menjadi titik temu lintas gereja dan lintas agama.

Bacaan Alkitab dalam ibadah menyoroti tema penciptaan, pemulihan, dan pengharapan. Tema-tema tersebut memberi kerangka iman bagi perenungan mengenai keadaan bumi serta panggilan manusia untuk merawat kehidupan. Doa tidak ditempatkan sebagai pengganti tindakan nyata, tetapi sebagai bentuk kesaksian dan penguatan spiritual bagi tanggung jawab ekologis.

Dalam konteks kehadiran gereja di COP17, ibadah juga menjadi bentuk advokasi berbasis iman. Melalui doa, komunitas ekumenis menyatakan bahwa kehilangan keanekaragaman hayati dan kerusakan lingkungan merupakan persoalan yang menyentuh kehidupan bersama, termasuk masa depan generasi muda dan komunitas lokal.

COP17 dan tinjauan terhadap kerangka keanekaragaman hayati

COP17 Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati berlangsung di Yerevan pada 19–30 Oktober 2026. Konferensi ini menjadi momentum tinjauan global pertama terhadap pelaksanaan Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Kerangka tersebut menjadi acuan penting dalam upaya global untuk menangani krisis keanekaragaman hayati. Karena itu, COP17 menjadi ruang bagi negara-negara dan para pemangku kepentingan untuk meninjau perkembangan pelaksanaan komitmen yang telah disepakati dalam kerangka global tersebut.

Di tengah agenda konferensi itu, keterlibatan WCC membawa perspektif gereja dan komunitas iman ke dalam percakapan mengenai ekologi. Perspektif ini menekankan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai tanggung jawab manusia, keadilan antargenerasi, dan kepedulian terhadap komunitas yang terdampak kerusakan lingkungan.

Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, doa ekumenis di Yerevan merupakan bagian dari peran spiritual dan advokasi gereja selama COP17. Tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa doa tersebut menghasilkan keputusan resmi konferensi atau secara langsung menentukan hasil negosiasi COP17.

Iman dan tanggung jawab merawat ciptaan

Pesan yang muncul dari pertemuan dengan Karekin II dan doa di Gereja St. Anna memperlihatkan hubungan erat antara iman dan tanggung jawab ekologis. Dalam perspektif tersebut, ciptaan tidak dipandang semata-mata sebagai sumber daya yang dapat digunakan, tetapi sebagai anugerah yang harus dipelihara dengan tanggung jawab.

Penekanan pada nilai spiritual dan moral juga memperluas cara gereja memahami isu lingkungan. Perubahan iklim, pencemaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati memiliki dampak sosial dan kemanusiaan. Karena itu, respons terhadap krisis tersebut membutuhkan kesadaran etis, solidaritas, dan kesediaan untuk menjaga kehidupan bersama.

Kehadiran kaum muda dan komunitas lokal dalam doa ekumenis menegaskan bahwa isu keanekaragaman hayati bukan hanya urusan lembaga internasional. Isu ini berkaitan dengan ruang hidup masyarakat, masa depan generasi berikutnya, dan tanggung jawab komunitas di tingkat lokal. Gereja dapat berkontribusi dengan membangun kesadaran, menyediakan ruang refleksi, dan mendorong tindakan yang sejalan dengan panggilan merawat ciptaan.

Kesaksian ekumenis di tengah agenda global

Doa ekumenis COP17 Armenia di Yerevan menjadi kesaksian bersama bahwa gereja dan komunitas iman dapat mengambil bagian dalam pembicaraan ekologis global. Kesaksian itu dilakukan melalui perjumpaan, doa, pembacaan Alkitab, serta penegasan mengenai pentingnya nilai spiritual dan moral dalam menghadapi krisis lingkungan.

Rangkaian kegiatan pada 25 Oktober 2026 juga menunjukkan bentuk keterlibatan ekumenis yang menghubungkan pemimpin gereja, organisasi internasional, komunitas lokal, kaum muda, dan peserta konferensi. Perbedaan tradisi tidak menghalangi kerja bersama ketika perhatian diarahkan pada perlindungan ciptaan dan keberlanjutan kehidupan.

Bagi gereja, keterlibatan dalam isu ekologi dapat menjadi bagian dari kesaksian di tengah masyarakat. Doa memberikan dasar pengharapan, sementara advokasi dan kepedulian terhadap lingkungan menerjemahkan iman ke dalam tanggung jawab publik. Dalam kerangka itulah kegiatan di Yerevan mengiringi COP17: bukan sebagai keputusan resmi konferensi, melainkan sebagai seruan moral dan spiritual agar manusia terus merawat ciptaan.

Informasi Terkini

Berita Kampus Terbaru

Informasi terbaru mengenai kegiatan akademik, aktivitas institusi, dan perkembangan Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta.