Berita Kampus

Simposium Ekumenis Roma Bahas Teologi dan Pelayanan di Era AI

06 Oktober 2026 Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta

Simposium Ekumenis ke-3 bertema “Theology, Ministry, and Ethics in the Era of AI” dijadwalkan berlangsung pada 6–7 Oktober 2026 di Facoltà Valdese, Via Pietro Cossa 42, Roma. Pertemuan ini akan membahas hubungan antara kecerdasan buatan, kehidupan iman, pelayanan gereja, dan tanggung jawab etis dalam perspektif lintas tradisi gerejawi.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Reformed Churches Ecumenical Office Rome bersama Facoltà Valdese. Selain dihadiri secara langsung, simposium ini juga menyediakan akses daring melalui Zoom. Penyelenggara menempatkan kecerdasan buatan bukan hanya sebagai perkembangan teknis, melainkan sebagai isu yang menyentuh cara gereja memahami manusia, menjalankan pelayanan, dan mengambil bagian dalam percakapan publik mengenai masa depan teknologi.

Agenda Membuka Percakapan tentang AI dan Iman

Rangkaian acara pada 6 Oktober akan dibuka dengan keynote dari Prof. Park Seong-Won yang mengangkat AI sebagai pertanyaan iman. Pokok bahasan ini mengarahkan perhatian pada pertanyaan mendasar mengenai bagaimana teknologi cerdas memengaruhi cara manusia memahami diri, relasi dengan sesama, serta tanggung jawab di hadapan Allah.

Dengan menjadikan AI sebagai pertanyaan iman, simposium ini memperluas pembahasan melampaui aspek kemampuan mesin atau inovasi digital. Perkembangan kecerdasan buatan juga berkaitan dengan pertanyaan teologis tentang martabat manusia, kebebasan, tanggung jawab, dan batas-batas tindakan manusia dalam mengembangkan teknologi.

Agenda berikutnya menghadirkan Uskup Paul Tighe untuk memperkenalkan ensiklik Magnifica Humanitas. Sesi tersebut akan dilanjutkan dengan tanggapan dari gereja-gereja Reformed mengenai kerja sama gereja dalam advokasi AI. Susunan agenda ini menunjukkan perhatian terhadap kemungkinan kolaborasi ekumenis ketika gereja merespons dampak sosial dan etis dari kecerdasan buatan.

Kerja sama tersebut menjadi penting karena isu AI tidak berhenti pada ruang akademik. Penggunaannya dapat berhubungan dengan pendidikan, komunikasi, pengambilan keputusan, pekerjaan, serta pelayanan publik. Gereja-gereja dari berbagai tradisi perlu mempertimbangkan bagaimana suara iman dapat hadir secara bertanggung jawab dalam percakapan tersebut tanpa mengabaikan kompleksitas teknologi.

Mempertanyakan Dampak AI terhadap Pemahaman tentang Allah

Pada hari yang sama, Hans-Christoph Askani dijadwalkan menyampaikan kuliah umum mengenai pertanyaan apakah kecerdasan buatan dapat menjadi ancaman bagi pemahaman tentang Allah. Pertanyaan ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana perkembangan teknologi dapat memengaruhi bahasa, imajinasi, dan kerangka berpikir manusia mengenai realitas ilahi.

Pertanyaan tersebut tidak serta-merta menyimpulkan bahwa AI merupakan ancaman. Sebaliknya, tema itu menempatkan perkembangan teknologi sebagai bahan kajian kritis bagi teologi. Gereja dan lembaga pendidikan teologi perlu menguji asumsi-asumsi yang muncul ketika kecerdasan buatan dipandang semakin mampu menghasilkan bahasa, menganalisis informasi, dan membantu pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia.

Dalam konteks tersebut, pembahasan teologi tidak hanya berfokus pada apakah AI dapat melakukan tugas tertentu. Perhatian juga diarahkan pada arti menjadi manusia, makna relasi, serta perbedaan antara kemampuan menghasilkan keluaran informasional dan kehidupan yang memiliki tanggung jawab moral serta spiritual.

Relevansi bagi Pelayanan Gereja

Tema simposium memiliki relevansi langsung bagi pelayanan gereja. Kecerdasan buatan berpotensi memengaruhi cara gereja mengelola informasi, menyusun bahan komunikasi, mendukung pendidikan, dan berinteraksi dengan jemaat. Namun, setiap pemanfaatan teknologi perlu ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab pastoral.

Pelayanan gereja tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi secara cepat. Di dalamnya terdapat unsur relasi, pendampingan, kepekaan terhadap konteks kehidupan, dan perhatian terhadap pribadi yang dilayani. Karena itu, penggunaan AI perlu dipertimbangkan secara hati-hati agar teknologi tidak menggantikan dimensi kemanusiaan yang menjadi bagian penting dari pelayanan pastoral.

Simposium ini juga relevan bagi pembentukan calon pelayan gereja dan teolog. Mahasiswa sekolah tinggi teologi perlu memiliki literasi etika yang memadai untuk menilai penggunaan teknologi dalam konteks jemaat maupun masyarakat. Literasi tersebut mencakup kemampuan mengenali peluang, keterbatasan, risiko, dan konsekuensi sosial dari sistem berbasis kecerdasan buatan.

Antropologi Teologis dan Martabat Manusia

Salah satu konteks penting dalam pembahasan AI adalah antropologi teologis, yaitu refleksi tentang hakikat dan tujuan manusia. Ketika mesin dapat menghasilkan teks, gambar, atau analisis yang menyerupai hasil kerja manusia, gereja perlu kembali mengajukan pertanyaan tentang dasar martabat manusia.

Martabat manusia tidak semata-mata ditentukan oleh produktivitas atau kemampuan menyelesaikan tugas. Karena itu, penilaian terhadap AI perlu memperhitungkan dampaknya terhadap relasi sosial, kelompok rentan, pekerja, serta mereka yang memiliki akses teknologi yang terbatas. Pertimbangan etis juga diperlukan agar penggunaan AI tidak mengurangi manusia menjadi sekadar data atau objek pengukuran.

Pembahasan semacam ini dapat membantu gereja menyusun respons yang lebih matang. Gereja tidak dipanggil untuk menerima setiap perkembangan teknologi secara terburu-buru, tetapi juga tidak perlu menghindari percakapan tentang teknologi. Tugas teologi adalah menghadirkan penilaian yang kritis, bertanggung jawab, dan berakar pada perhatian terhadap kehidupan manusia.

Ruang Ekumenis untuk Merumuskan Respons

Keberadaan berbagai tradisi gereja dalam simposium ini menyediakan ruang untuk mendengarkan perspektif yang beragam. Isu AI memiliki dampak lintas negara dan lintas komunitas, sehingga respons gereja juga membutuhkan percakapan yang melampaui batas denominasi.

Melalui agenda tentang iman, pelayanan, ensiklik, advokasi, dan pemahaman tentang Allah, simposium tersebut memperlihatkan luasnya medan diskusi yang perlu diperhatikan. Pembahasan tidak hanya menyentuh doktrin atau teori teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab gereja dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan digital.

Namun, karena simposium baru dijadwalkan berlangsung pada 6–7 Oktober 2026, hasil akhir dan kesimpulan pertemuan belum dapat disampaikan. Informasi yang tersedia saat ini berfokus pada tema, penyelenggara, serta agenda yang akan dibahas. Perkembangan pembicaraan selama acara akan menjadi penting untuk melihat arah refleksi ekumenis mengenai AI.

Catatan bagi Komunitas Teologi

Bagi komunitas sekolah tinggi teologi, simposium ini dapat menjadi pengingat bahwa pendidikan teologi perlu terus berdialog dengan perubahan teknologi. Pembelajaran tentang AI tidak harus dipahami sebagai pelatihan teknis semata. Yang tidak kalah penting adalah membangun kemampuan untuk mengajukan pertanyaan etis dan teologis ketika teknologi digunakan dalam kehidupan gereja.

Beberapa pertanyaan yang relevan antara lain: bagaimana AI digunakan tanpa mengabaikan kerahasiaan dan kepercayaan jemaat; bagaimana pemimpin gereja membedakan bantuan teknologi dari pengganti pendampingan manusia; serta bagaimana gereja dapat menyuarakan kepentingan mereka yang paling terdampak oleh perubahan teknologi.

Dengan demikian, tema teologi, pelayanan, dan etika AI mengundang gereja untuk mengembangkan sikap yang bijaksana. Kecerdasan buatan perlu dipahami secara kritis, ditempatkan dalam tanggung jawab pastoral, dan dinilai berdasarkan dampaknya terhadap martabat manusia serta kehidupan bersama. Simposium Ekumenis ke-3 di Roma akan menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam percakapan lintas tradisi.

Informasi Terkini

Berita Kampus Terbaru

Informasi terbaru mengenai kegiatan akademik, aktivitas institusi, dan perkembangan Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta.