JAKARTA — Institut Ekumenis Bossey akan memperingati 80 tahun pelayanannya pada 7 Oktober 2026 melalui rangkaian acara yang menegaskan kembali peran pendidikan teologi ekumenis bagi gereja di tengah perubahan dunia. Perayaan utama berlangsung di Château de Bossey, dekat Jenewa, Swiss, dan dapat diikuti secara daring oleh komunitas ekumenis serta akademik internasional.
Institut yang merupakan bagian dari World Council of Churches (WCC) dan terhubung dengan Universitas Jenewa ini menyiapkan program yang memadukan doa, refleksi akademik, kesaksian komunitas, dan perjumpaan lintas tradisi Kristen. Agenda tersebut mencakup doa pagi di Kapel Bossey, sambutan dari mahasiswa, alumni, dosen, staf, serta mitra, dan pidato utama Sekretaris Jenderal WCC Rev. Prof. Dr Jerry Pillay.
Pidato utama itu mengangkat tema “From Vision to Viability: Restating Bossey’s Mission for a Changing World”. Tema tersebut menempatkan perjalanan Bossey dalam pertanyaan yang relevan bagi pendidikan teologi masa kini: bagaimana visi ekumenis diterjemahkan menjadi pembentukan pemimpin, kehidupan komunitas, dan pelayanan yang tetap bermakna dalam konteks dunia yang terus berubah.
Delapan dekade pendidikan dan pembentukan ekumenis
Institut Ekumenis Bossey dibuka secara resmi oleh World Council of Churches pada 5 Oktober 1946. Sejak awal, Bossey menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan orang-orang dari berbagai tradisi gereja untuk belajar, berdialog, berdoa, dan hidup bersama. Sejarah tersebut menempatkan institut ini dalam perkembangan gerakan ekumenis setelah Perang Dunia II, ketika kebutuhan akan pemahaman lintas gereja dan kerja sama Kristen menjadi semakin penting.
Selama delapan dekade, fokus Bossey tidak hanya terletak pada penyampaian pengetahuan akademik. Pendidikan di dalamnya juga berkaitan dengan pembentukan karakter, kemampuan berdialog, serta kesediaan untuk memahami pengalaman gereja dan masyarakat yang berbeda. Studi, seminar, konferensi, doa, dan kehidupan komunitas menjadi bagian dari proses pembentukan tersebut.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan teologi ekumenis berlangsung melalui lebih dari ruang kelas. Pertemuan dengan sesama peserta, percakapan lintas denominasi, refleksi iman, dan keterlibatan dalam komunitas turut membentuk cara seseorang memahami gereja serta tanggung jawab kepemimpinannya.
Rangkaian acara peringatan 80 tahun
Perayaan pada 7 Oktober 2026 akan diawali dengan doa pagi di Kapel Bossey. Pembukaan tersebut memberi penekanan bahwa perjalanan institut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan doa dan pencarian bersama akan kehendak Allah dalam konteks gereja yang beragam.
Setelah itu, perwakilan mahasiswa, alumni, dosen, staf, dan mitra akan menyampaikan sambutan. Keterlibatan berbagai unsur komunitas Bossey menunjukkan bahwa perayaan ini tidak hanya melihat sejarah dari sisi lembaga, tetapi juga dari pengalaman orang-orang yang pernah belajar, bekerja, dan mengambil bagian dalam kehidupan institut.
Agenda utama juga mencakup panel jubileum mengenai peran Bossey dalam ekumenisme global. Panel tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan sumbangan institut terhadap perjumpaan lintas gereja, pembentukan pemimpin, serta pencarian jalan bagi persatuan gereja.
Kesaksian alumni menjadi bagian lain dari program perayaan. Kehadiran alumni memperlihatkan kesinambungan antara proses pendidikan di Bossey dan pelayanan yang dijalankan setelah masa studi. Selain itu, perayaan akan ditandai dengan peluncuran jaringan alumni baru. Jaringan ini diharapkan menjadi ruang keterhubungan bagi mereka yang pernah dibentuk melalui pengalaman pendidikan dan komunitas Bossey.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penanaman pohon peringatan. Dalam konteks perayaan institusional, tindakan tersebut menjadi simbol keberlanjutan dan harapan bagi generasi yang akan datang. Perayaan 80 tahun dengan demikian tidak hanya diarahkan pada pengenangan masa lalu, tetapi juga pada tanggung jawab untuk merawat misi pendidikan ekumenis di masa depan.
Relevansi bagi pendidikan teologi masa kini
Perjalanan Bossey memiliki relevansi bagi lembaga pendidikan teologi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Gereja hidup dalam masyarakat yang ditandai oleh keberagaman tradisi, pengalaman sosial, dan tantangan pelayanan. Karena itu, pembentukan pemimpin gereja perlu memberi ruang bagi kemampuan mendengar, berdialog, bekerja sama, dan membangun relasi yang melampaui batas-batas denominasi.
Pendidikan teologi ekumenis juga membantu mahasiswa melihat bahwa persatuan gereja tidak cukup dibicarakan sebagai gagasan. Persatuan membutuhkan perjumpaan yang nyata, sikap saling menghormati, kesediaan mengakui perbedaan, dan komitmen untuk mencari kepentingan bersama. Dalam proses tersebut, kehidupan komunitas dapat menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Model pembentukan yang menggabungkan studi, doa, seminar, konferensi, dan kehidupan bersama menawarkan perspektif yang luas mengenai kepemimpinan gereja. Pemimpin tidak hanya dituntut memahami teologi secara akademik, tetapi juga mampu menghubungkan pengetahuan dengan rekonsiliasi, keadilan, persatuan gereja, dan pelayanan.
Tema pidato utama perayaan Bossey juga mengajak komunitas pendidikan teologi untuk memikirkan kembali hubungan antara visi dan keberlanjutan. Visi yang besar membutuhkan bentuk pelayanan yang dapat dijalankan secara nyata. Sebaliknya, keberlanjutan lembaga dan program pendidikan perlu tetap berakar pada panggilan ekumenis serta kebutuhan gereja dan dunia.
Kesempatan berpartisipasi secara daring
WCC menyampaikan bahwa rangkaian perayaan 80 tahun Bossey tersedia untuk diikuti secara daring. Kesempatan ini memungkinkan komunitas teologi internasional berpartisipasi dari berbagai negara tanpa harus hadir langsung di Swiss.
Akses daring tersebut memperluas makna perayaan. Mahasiswa, dosen, pemimpin gereja, alumni, dan komunitas akademik dapat mengikuti refleksi mengenai masa depan pendidikan teologi ekumenis serta belajar dari pengalaman sebuah institut yang telah melayani selama delapan dekade.
Bagi sekolah tinggi teologi, peringatan ini dapat menjadi momentum untuk menilai kembali bagaimana pendidikan mempersiapkan pemimpin gereja. Pertanyaan yang muncul bukan hanya mengenai kurikulum, melainkan juga mengenai kualitas kehidupan komunitas, ruang dialog, kedalaman spiritualitas, dan kemampuan lembaga untuk menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan identitas teologisnya.
Perayaan Institut Ekumenis Bossey 80 tahun pada akhirnya menjadi peristiwa yang menghubungkan sejarah dan masa depan. Dari pembukaannya pada 1946 hingga peringatan pada 2026, Bossey terus dipahami sebagai ruang pendidikan, doa, dialog lintas denominasi, dan pembentukan pemimpin gereja. Bagi dunia pendidikan teologi, pengalaman tersebut mengingatkan bahwa ekumenisme perlu terus dihidupi melalui pembelajaran dan perjumpaan yang konkret.