ROMA — Konferensi ekumenis internasional bertajuk From Listening to Practice akan mempertemukan lebih dari 30 pakar hukum kanonik dari berbagai tradisi Kristen di Pontifical University of Saint Thomas Aquinas (Angelicum), Roma, pada 30 September–3 Oktober 2026. Pertemuan ini berfokus pada praktik kanonik sinodalitas dalam tradisi Kristen Timur dan Barat, khususnya mengenai lembaga-lembaga sinodal serta proses pengambilan keputusan bersama di berbagai tingkat kehidupan gereja.
Informasi awal mengenai agenda tersebut dipublikasikan pada 22 September 2026. Tanggal publikasi informasi perlu dibedakan dari tanggal pelaksanaan konferensi, yang berlangsung selama empat hari, yakni 30 September hingga 3 Oktober 2026. Penegasan ini penting agar pembaca dapat memahami bahwa berita awal tersebut merupakan pemberitahuan mengenai konferensi yang akan diselenggarakan, bukan laporan tentang seluruh hasil pertemuan.
Konferensi ini diselenggarakan bersama oleh Œcumenicum—Institute for Ecumenical Studies dan Fakultas Hukum Kanonik Angelicum. Dengan mempertemukan ahli dari beragam tradisi gerejawi, agenda tersebut menempatkan hukum kanonik dalam percakapan langsung dengan pertanyaan ekumenis mengenai cara gereja mendengarkan, berunding, dan mengambil keputusan.
Sinodalitas sebagai praktik gerejawi
Dalam kerangka konferensi ini, sinodalitas tidak hanya dipahami sebagai gagasan teologis atau istilah dalam pembahasan gereja. Sinodalitas juga dilihat melalui praktik dan perangkat kanonik yang mengatur partisipasi, konsultasi, serta pengambilan keputusan bersama. Karena itu, perhatian diarahkan pada bagaimana lembaga-lembaga sinodal bekerja dan bagaimana proses tersebut dijalankan pada berbagai tingkat gereja.
Pendekatan ini menghubungkan refleksi tentang tata kelola gereja dengan pengalaman konkret berbagai tradisi Kristen. Hukum kanonik menjadi salah satu ruang untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip eklesiologis diterjemahkan ke dalam struktur, tanggung jawab, dan prosedur. Pada saat yang sama, praktik sinodalitas membuka pertanyaan mengenai cara otoritas gerejawi dijalankan bersama dengan partisipasi umat.
Bagi pembaca di lingkungan sekolah tinggi teologi, tema tersebut memiliki relevansi akademik dan pastoral. Pembahasan mengenai sinodalitas tidak berhenti pada perbedaan istilah atau bentuk kelembagaan. Perhatian juga diberikan pada hubungan antara tradisi kanonik, pembaruan tata kelola gereja, dan upaya membangun proses pengambilan keputusan yang mendengarkan berbagai pihak.
Mempertemukan tradisi Kristen Timur dan Barat
Salah satu ciri utama konferensi From Listening to Practice adalah cakupan tradisinya. Pertemuan ini membahas praktik-praktik kanonik dalam tradisi Kristen Timur dan Barat. Keduanya memiliki sejarah, bentuk kelembagaan, serta pengalaman pengambilan keputusan yang beragam. Keragaman tersebut menjadi dasar bagi refleksi bersama, bukan sekadar latar belakang pertemuan.
Dialog di antara tradisi-tradisi itu memungkinkan para peserta mengamati persamaan dan perbedaan dalam cara gereja mengatur kehidupan bersama. Pembahasan mengenai lembaga sinodal dan proses keputusan dapat membantu memperjelas bagaimana tiap tradisi memahami relasi antara otoritas, konsultasi, tanggung jawab, dan kesatuan gereja.
Dalam konteks ekumenisme, perbandingan tersebut memiliki arti penting. Dialog tidak diarahkan untuk menghapus keragaman kanonik yang ada, melainkan untuk memahami bagaimana keragaman itu dapat dibicarakan dalam perspektif kesatuan umat Kristen. Dengan demikian, hukum kanonik diperlakukan sebagai salah satu bidang yang dapat mendukung pemahaman timbal balik antargereja.
Melanjutkan rangkaian refleksi sebelumnya
Konferensi di Roma ini melanjutkan dua simposium sebelumnya, yaitu Listening to the East dan Listening to the West. Rangkaian tersebut menunjukkan perkembangan dari tahap mendengarkan pengalaman berbagai tradisi menuju perhatian yang lebih khusus pada penerapan dan praktik.
Perubahan fokus dari “mendengarkan” menuju “praktik” memberi arah pada agenda konferensi. Pengalaman dan pemahaman yang telah dibicarakan dalam simposium sebelumnya ditempatkan dalam pembahasan tentang lembaga, prosedur, serta cara keputusan sinodal dijalankan. Dengan begitu, sinodalitas dibahas bukan hanya sebagai tema pertukaran gagasan, tetapi juga sebagai kenyataan yang memiliki konsekuensi bagi kehidupan gereja.
Rangkaian ini juga menempatkan konferensi dalam perspektif yang lebih luas. Sinodalitas dibicarakan sehubungan dengan kesatuan umat Kristen, sehingga pertanyaan tentang tata kelola gereja tidak dipisahkan dari pertanyaan eklesiologis dan ekumenis. Hubungan antara kedua bidang tersebut menjadi salah satu pokok penting yang hendak direfleksikan oleh para peserta.
Relevansi bagi pembaruan tata kelola gereja
Pembaruan tata kelola gereja menjadi salah satu konteks yang membuat pembahasan ini relevan. Ketika gereja berbicara tentang partisipasi umat dan pengambilan keputusan bersama, diperlukan pemahaman yang cermat mengenai struktur serta norma yang menopang proses tersebut. Hukum kanonik dapat membantu menjelaskan batas, peran, dan tanggung jawab berbagai lembaga gerejawi.
Namun, sinodalitas juga menuntut perhatian pada praktik mendengarkan. Proses bersama tidak hanya berkaitan dengan mekanisme formal, tetapi juga dengan bagaimana suara berbagai pihak dipertimbangkan dalam kehidupan gereja. Konferensi ini memberi ruang untuk merefleksikan keterkaitan antara norma kanonik dan budaya gerejawi yang mendukung partisipasi.
Bagi lembaga pendidikan teologi, isu tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran lintas disiplin. Studi hukum kanonik, eklesiologi, teologi praktis, dan ekumenisme dapat saling memperkaya ketika membahas bagaimana gereja mengambil keputusan dan memelihara kesatuan di tengah keberagaman tradisi.
Implikasi bagi dialog ekumenis
Lebih dari 30 pakar hukum kanonik dari berbagai tradisi Kristen akan terlibat dalam refleksi konferensi ini. Kehadiran para ahli dari latar belakang yang beragam memungkinkan hukum kanonik dibaca sebagai bidang dialog. Pembicaraan tidak hanya menyangkut aturan internal masing-masing tradisi, tetapi juga bagaimana pengalaman tersebut dapat dipahami oleh komunitas gerejawi lain.
Fokus pada praktik kanonik sinodalitas juga memperluas ruang dialog ekumenis. Kesatuan umat Kristen tidak hanya dibahas dalam pernyataan teologis, tetapi juga melalui pertanyaan tentang cara gereja mengatur kehidupan bersama. Cara mendengar, berkonsultasi, dan membuat keputusan dapat menjadi bagian dari refleksi mengenai kesaksian gereja di tengah dunia.
Konferensi From Listening to Practice karena itu menghadirkan tema yang penting bagi kajian sinodalitas dan ekumenisme. Pertemuan di Angelicum, Roma, menghubungkan tradisi kanonik yang beragam dengan perhatian terhadap partisipasi umat, pembaruan tata kelola, dan pencarian kesatuan umat Kristen. Hasil refleksinya diharapkan memperkaya percakapan akademik serta gerejawi mengenai bagaimana sinodalitas dapat dipahami dan dipraktikkan dalam berbagai tradisi.