Berita Kampus

Season of Creation 2026 Ditutup dengan Seruan Merawat Air

04 Oktober 2026 Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta

JAKARTA — Season of Creation 2026 akan memasuki agenda penutupan global pada Minggu, 4 Oktober 2026, dengan tema “Living Water”. Tema tersebut diambil dari Yehezkiel 47:9 dan 12, yang menggambarkan air sebagai sumber kehidupan, pemulihan, dan keberlangsungan ciptaan.

World Council of Churches (WCC) menyebut penutupan ini sebagai momen doa dan refleksi ekumenis mengenai makna air bagi kehidupan serta tanggung jawab manusia dalam merawat ciptaan. Agenda tersebut menjadi bagian dari rangkaian Season of Creation yang berlangsung sejak 1 September hingga 4 Oktober 2026.

Perayaan ini melibatkan komunitas Kristen dari berbagai tradisi, termasuk gereja-gereja Anglikan, Lutheran, Katolik, dan mitra ekumenis lainnya. Sepanjang periode tersebut, gereja didorong untuk menghubungkan ibadah dengan pendidikan, doa, advokasi, dan tindakan nyata bagi keadilan iklim serta perlindungan sumber daya air.

Air sebagai tanda kehidupan dan pemulihan

Tema “Living Water” menempatkan air bukan hanya sebagai kebutuhan dasar manusia, tetapi juga sebagai bagian penting dari kesaksian iman mengenai kehidupan dan pemulihan ciptaan. Dalam Yehezkiel 47:9 dan 12, gambaran tentang aliran air berkaitan dengan kehidupan yang tumbuh dan pemulihan yang menjangkau wilayah di sekitarnya.

Kerangka biblis tersebut memberi dasar teologis bagi gereja untuk merefleksikan krisis air, kerusakan lingkungan, dan dampak perubahan iklim. Air menjadi ruang perjumpaan antara iman dan tanggung jawab sosial: umat dipanggil untuk bersyukur atas karunia ciptaan sekaligus memperhatikan kondisi masyarakat dan lingkungan yang terdampak.

Dengan demikian, Season of Creation 2026 tidak berhenti pada perayaan liturgis. Materi dan kegiatan yang disiapkan untuk rangkaian ini mendorong komunitas gereja menerjemahkan doa ke dalam pendidikan lingkungan, kepedulian terhadap sumber air, advokasi, serta langkah-langkah konkret untuk merawat bumi.

Agenda ekumenis dalam satu rangkaian global

Season of Creation merupakan inisiatif ekumenis yang mempertemukan komunitas Kristen lintas denominasi dalam sebuah masa khusus untuk merayakan, merefleksikan, dan merawat ciptaan. Periode 1 September sampai 4 Oktober memberi kesempatan bagi gereja untuk menyusun kegiatan sesuai konteks lokal, sambil tetap terhubung dengan perhatian gereja-gereja di berbagai wilayah.

WCC menempatkan Season of Creation dalam kerangka Ecumenical Decade of Climate Justice Action 2025–2034. Kerangka ini menegaskan pentingnya tindakan bersama yang berkelanjutan dalam menghadapi krisis iklim dan memperjuangkan keadilan ekologis.

Keadilan iklim berkaitan dengan kenyataan bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak dirasakan secara sama oleh semua orang. Karena itu, pembicaraan mengenai air juga perlu memperhatikan tanggung jawab manusia, keberlanjutan sumber daya, dan kehidupan komunitas yang bergantung pada lingkungan yang sehat.

Pembicara dari tradisi gereja dan gerakan lingkungan

Agenda penutupan yang diumumkan WCC menghadirkan Elizabeth Trice dan Analisa Ramsahai. Trice dikenal sebagai pegiat konservasi dan lingkungan dari Inggris yang aktif dalam Church of England.

Ramsahai merupakan ilmuwan lingkungan dan aktivis iklim Katolik dari Trinidad dan Tobago. Ia terlibat dalam Laudato Si’ Movement, sebuah gerakan yang memberi perhatian pada hubungan antara iman, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab terhadap masyarakat yang terdampak krisis ekologis.

Kehadiran kedua pembicara tersebut mencerminkan karakter Season of Creation sebagai ruang dialog antara tradisi gereja, pengetahuan lingkungan, pengalaman komunitas, dan gerakan untuk keadilan iklim. Perspektif yang beragam diperlukan agar kepedulian terhadap ciptaan tidak dipahami secara sempit, melainkan sebagai bagian dari panggilan gereja yang mencakup dimensi spiritual, pendidikan, sosial, dan ekologis.

Relevansi bagi gereja dan pendidikan teologi di Indonesia

Bagi gereja-gereja di Indonesia, tema “Living Water” dapat menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan air dan krisis iklim dalam konteks lokal. Sungai, mata air, dan wilayah pesisir merupakan bagian dari kehidupan banyak komunitas. Ketika sumber-sumber tersebut mengalami pencemaran atau kerusakan, persoalannya tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga kesehatan, penghidupan, dan relasi sosial.

Gereja dapat menggunakan masa Season of Creation untuk mengembangkan kegiatan yang menghubungkan liturgi dengan pembelajaran dan pelayanan. Khotbah, diskusi jemaat, pendidikan warga gereja, pengamatan kondisi lingkungan, serta tindakan perlindungan sumber air dapat menjadi bentuk kesaksian yang saling melengkapi.

Lembaga pendidikan teologi juga memiliki peran penting. Tema air dan keadilan iklim dapat dibahas dalam kajian teologi publik, etika Kristen, pendidikan agama, misi, dan pelayanan gereja. Mahasiswa teologi dapat diajak melihat bahwa kepedulian ekologis bukan isu tambahan di luar kehidupan iman, melainkan bagian dari cara gereja memahami panggilannya di tengah dunia.

Pendidikan teologi dapat menolong calon pelayan gereja mengembangkan kemampuan untuk membaca hubungan antara teks Alkitab, konteks ekologis, dan kebutuhan komunitas. Dengan pendekatan tersebut, refleksi tentang ciptaan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diarahkan pada pelayanan yang bertanggung jawab dan berpihak pada keberlanjutan kehidupan.

Penutupan sebagai awal komitmen berkelanjutan

Agenda penutupan Season of Creation 2026 pada 4 Oktober menandai berakhirnya satu periode perayaan, tetapi bukan berakhirnya tanggung jawab gereja terhadap ciptaan. Pesan tentang air sebagai sumber kehidupan perlu diteruskan melalui kebiasaan, pendidikan, kerja sama lintas gereja, dan perhatian terhadap kebijakan serta praktik yang berdampak pada lingkungan.

Dalam semangat “Living Water”, gereja-gereja diajak melihat air sebagai anugerah yang harus dijaga bersama. Doa dan ibadah dapat memberi arah spiritual, sementara pendidikan, advokasi, dan tindakan komunitas membantu mewujudkan tanggung jawab tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi komunitas Kristen di Indonesia, penutupan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kesadaran bahwa merawat air dan ciptaan merupakan bagian dari kesaksian iman lintas denominasi. Komitmen terhadap keadilan iklim pada akhirnya berhubungan dengan upaya menjaga kehidupan, melindungi kelompok rentan, dan memastikan bahwa sumber daya alam tetap tersedia bagi generasi mendatang.

Informasi Terkini

Berita Kampus Terbaru

Informasi terbaru mengenai kegiatan akademik, aktivitas institusi, dan perkembangan Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta.