VANCOUVER, Kanada — World Council of Churches (WCC) menyelesaikan pertemuan Reference Group untuk Pilgrimage of Justice, Reconciliation and Unity atau Peziarahan Keadilan, Rekonsiliasi, dan Kesatuan di Vancouver, Kanada, pada 17–22 September 2026. Pertemuan ini memperkuat arah strategis untuk memperluas dan memperdalam peziarahan tersebut dalam kehidupan persekutuan gereja.
Pertemuan diselenggarakan bersama Vancouver School of Theology dan Canadian Council of Churches. Kegiatan tersebut mempertemukan perwakilan WCC, pemimpin gereja, serta mitra ekumenis lokal dalam rangkaian diskusi pleno, kelompok kerja, perjumpaan kontekstual, dan proses discernment bersama.
Menurut pokok hasil pertemuan yang disampaikan WCC, tahap berikutnya dari peziarahan perlu dibangun melalui kolaborasi, ko-kreasi, komunikasi, dan pembelajaran timbal balik. Arah ini menempatkan keadilan, rekonsiliasi, dan kesatuan bukan hanya sebagai tema pembahasan, melainkan sebagai proses yang dihidupi bersama oleh gereja dan mitra-mitranya.
Memperluas peziarahan dalam kehidupan gereja
Peziarahan Keadilan, Rekonsiliasi, dan Kesatuan merupakan kerangka ekumenis yang menghubungkan panggilan gereja untuk menghadirkan keadilan, membangun rekonsiliasi, dan mengupayakan kesatuan. Pertemuan Reference Group di Vancouver membantu memperjelas bagaimana arah tersebut dapat menjangkau berbagai bagian kehidupan persekutuan gereja.
Perluasan itu berkaitan dengan cara gereja bekerja bersama, belajar dari pengalaman yang beragam, dan melibatkan komunitas setempat. Dalam konteks ini, kolaborasi tidak dipahami sekadar sebagai kerja sama antarorganisasi. Kolaborasi juga mencakup kesediaan untuk mendengarkan, mengakui pengalaman komunitas, serta menyusun langkah bersama berdasarkan kebutuhan dan pengetahuan yang berkembang di lapangan.
Proses pembahasan melalui pleno dan kelompok kerja memberi ruang bagi peserta untuk melihat kembali arah strategis peziarahan. Sementara itu, perjumpaan kontekstual membantu menghubungkan percakapan ekumenis dengan kehidupan masyarakat dan mitra lokal. Keseluruhan proses tersebut menjadi bagian dari upaya WCC mempersiapkan kerja misi ekumenis pada tahap berikutnya.
Belajar dari pengalaman masyarakat adat
Salah satu bagian penting pertemuan di Vancouver adalah interaksi peserta dengan para tetua dan penjaga pengetahuan masyarakat adat. Perjumpaan ini berlangsung melalui pengajaran tradisional, doa, kesaksian, dan kegiatan kontekstual di lingkungan University of British Columbia.
Keterlibatan tersebut memperkaya pemahaman peserta mengenai pentingnya mendengarkan pengalaman masyarakat adat dalam percakapan tentang keadilan dan rekonsiliasi. Pengetahuan, kesaksian, dan praktik doa yang dibagikan menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama, sekaligus mengingatkan gereja untuk memperhatikan konteks nyata komunitas yang didampinginya.
Bagi gerakan ekumenis, perjumpaan semacam ini menunjukkan bahwa rekonsiliasi tidak dapat dilepaskan dari sejarah, pengalaman, dan suara komunitas. Rekonsiliasi membutuhkan ruang untuk mendengar kesaksian, memahami luka, serta membangun relasi yang lebih bertanggung jawab. Karena itu, kegiatan kontekstual menjadi unsur penting dalam proses discernment bersama.
Relevansi bagi pendidikan teologi
Pertemuan WCC di Vancouver memiliki relevansi langsung bagi sekolah teologi dan lembaga pendidikan Kristen. Pendidikan teologi tidak hanya berfungsi menyampaikan pengetahuan akademik mengenai gereja, melainkan juga membentuk kemampuan untuk membaca konteks, berdialog, dan mendampingi komunitas dalam menghadapi persoalan keadilan serta rekonsiliasi.
Peziarahan ini membuka ruang bagi pendidikan teologi untuk mempertemukan refleksi teologis dengan pengalaman konkret gereja dan masyarakat. Mahasiswa serta komunitas akademik dapat belajar bahwa kesatuan gereja tidak berhenti pada kesamaan rumusan atau pertemuan kelembagaan. Kesatuan juga diwujudkan melalui kesediaan berjalan bersama, berbagi tanggung jawab, dan bekerja menghadirkan perubahan yang berkeadilan.
Dalam perspektif tersebut, spiritualitas ekumenis memiliki hubungan erat dengan cara belajar. Proses belajar berlangsung melalui percakapan lintas gereja, pengalaman komunitas, pengenalan terhadap konteks masyarakat adat, dan keterlibatan dalam tindakan nyata. Pendidikan teologi dapat menjadi ruang untuk mengembangkan sikap rendah hati, keterbukaan, dan kemampuan bekerja bersama di tengah keberagaman tradisi.
Kolaborasi dan pembelajaran timbal balik
Pokok lain yang menonjol dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya komunikasi dan pembelajaran timbal balik. Gereja-gereja dan mitra ekumenis memiliki pengalaman yang berbeda dalam menghadapi persoalan sosial, budaya, dan spiritual. Perbedaan itu dapat menjadi sumber pembelajaran apabila dikelola melalui relasi yang saling menghormati.
Ko-kreasi juga menuntut agar gereja tidak hanya merancang agenda dari pusat, tetapi membuka ruang bagi komunitas dan mitra lokal untuk ikut menentukan arah kerja. Dengan demikian, peziarahan dapat bertumbuh dari pengalaman nyata serta menjawab kebutuhan yang dirasakan oleh komunitas.
WCC menyatakan bahwa pertemuan Reference Group ini membantu memperluas peziarahan ke berbagai bagian kehidupan persekutuan gereja. Hasil tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan percakapan dan tindakan ekumenis dengan melibatkan lebih banyak pihak, memperkuat jejaring, serta mengembangkan cara-cara belajar bersama.
Makna bagi gereja di tingkat lokal
Bagi gereja-gereja di tingkat lokal, arah yang dibahas di Vancouver dapat menjadi dorongan untuk melihat kembali hubungan antara ibadah, pendidikan, pelayanan, dan kesaksian publik. Keadilan dan rekonsiliasi tidak hanya dibicarakan dalam forum internasional, tetapi perlu diterjemahkan melalui pendampingan komunitas dan kerja sama yang sesuai dengan konteks setempat.
Gereja dapat memulai dari praktik mendengarkan komunitas, membangun dialog dengan mitra, serta mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan iman dengan persoalan kehidupan. Dalam proses itu, kesatuan gereja dapat tampak melalui tindakan bersama yang menghormati perbedaan dan mengarah pada kepedulian terhadap mereka yang mengalami ketidakadilan.
Pertemuan di Vancouver dengan demikian menegaskan bahwa Peziarahan Keadilan, Rekonsiliasi, dan Kesatuan WCC merupakan proses berkelanjutan. Proses tersebut membutuhkan refleksi teologis, spiritualitas yang terbuka, keterlibatan dengan komunitas, dan komitmen untuk mengubah pembelajaran menjadi tindakan. Bagi pendidikan teologi, arah ini menyediakan ruang penting untuk mempersiapkan gereja yang mampu berjalan bersama dalam menghadirkan keadilan, rekonsiliasi, dan kesatuan.