Berita Kampus

Pertemuan Assisi 2026 Serukan Perdamaian Tanpa Senjata

26 Oktober 2026 Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta

ASSISI, Italia — Pertemuan Internasional untuk Perdamaian bertema “Unarmed and Disarming Peace” berlangsung pada 25–27 Oktober 2026 di Assisi dan Bastia Umbra, Italia. Diselenggarakan oleh Komunitas Sant’Egidio, pertemuan ini mempertemukan perwakilan berbagai agama, tokoh budaya, masyarakat sipil, serta lembaga-lembaga publik untuk membahas jalan membangun perdamaian di tengah perang, kekerasan, dan berbagai tantangan kemanusiaan.

Pada 26 Oktober 2026, rangkaian acara memasuki agenda forum-forum tematik yang membahas sejumlah persoalan global. Sementara itu, upacara penutupan dijadwalkan berlangsung di Assisi pada 27 Oktober 2026. Dengan demikian, kegiatan yang berlangsung pada 26 Oktober merupakan bagian dari keseluruhan pertemuan, bukan agenda penutup.

Menandai 40 tahun doa lintas agama di Assisi

Pertemuan tahun 2026 memiliki makna khusus karena bertepatan dengan peringatan 40 tahun pertemuan doa lintas agama yang digagas Paus Yohanes Paulus II di Assisi pada 1986. Pertemuan tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi keterlibatan komunitas agama dalam membangun budaya dialog dan perdamaian.

Empat dekade kemudian, Assisi kembali menjadi ruang perjumpaan lintas tradisi. Kehadiran para peserta dari latar belakang agama dan bidang kehidupan yang beragam menunjukkan bahwa perdamaian tidak hanya menjadi perhatian lembaga negara atau organisasi internasional. Perdamaian juga merupakan tanggung jawab komunitas agama, masyarakat sipil, tokoh budaya, dan setiap orang yang terlibat dalam kehidupan bersama.

Dalam konteks itu, tema “Unarmed and Disarming Peace” menempatkan perdamaian sebagai upaya yang berkaitan dengan penolakan terhadap kekerasan dan pengurangan ketergantungan pada persenjataan. Tema tersebut juga mengarahkan perhatian pada pentingnya membangun hubungan yang memungkinkan masyarakat hidup berdampingan tanpa menjadikan ancaman dan kekuatan bersenjata sebagai jalan utama untuk menyelesaikan perbedaan.

Forum tematik membahas tantangan perdamaian

Sidang pembukaan diselenggarakan pada 25 Oktober 2026 di UmbriaFiere, Bastia Umbra. Setelah itu, pada 26–27 Oktober, peserta mengikuti forum-forum tematik yang membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan perdamaian dan masa depan kehidupan bersama.

Pokok pembahasan mencakup perang dan persenjataan, dialog, hidup berdampingan, migrasi, kaum muda, persatuan umat Kristen, serta isu-isu kemanusiaan. Keragaman tema tersebut memperlihatkan bahwa perdamaian tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial yang saling berkaitan.

Perang, misalnya, tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada kehidupan keluarga, perpindahan penduduk, masa depan anak muda, dan hubungan antar-komunitas. Karena itu, pembicaraan mengenai perdamaian perlu mencakup penghentian kekerasan sekaligus usaha merawat keadilan, solidaritas, dan kehidupan bersama.

Forum-forum tersebut juga memberi ruang bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan perhatian dan pengalaman mereka. Kehadiran tokoh budaya, masyarakat sipil, dan lembaga publik memperluas percakapan agar tidak berhenti pada ranah keagamaan, melainkan terhubung dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.

Doa dan dialog sebagai kesaksian bersama

Selain forum pembahasan, rangkaian Pertemuan Perdamaian Assisi 2026 mencakup doa perdamaian menurut tradisi keagamaan masing-masing peserta. Doa lintas tradisi menjadi bagian penting karena memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus berakhir pada pertentangan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi dasar untuk saling mendengarkan dan bekerja demi tujuan kemanusiaan yang sama.

Doa tidak menggantikan tindakan nyata. Namun, doa dapat membentuk sikap batin dan tanggung jawab moral yang diperlukan untuk membangun perdamaian. Dalam perjumpaan lintas agama, doa juga menjadi kesaksian bahwa kehidupan manusia memiliki nilai yang harus dihormati, terutama ketika perang dan kekerasan mengancam martabat manusia.

Dialog memiliki peran yang sama pentingnya. Dialog bukan sekadar pertukaran pandangan, melainkan proses untuk memahami pengalaman pihak lain, mengurangi prasangka, dan mencari kemungkinan kerja sama. Dalam masyarakat yang mengalami konflik atau terpecah oleh perbedaan, kemampuan untuk berbicara dan mendengarkan menjadi bagian dari usaha mencegah kekerasan.

Relevansi bagi gereja dan pendidikan teologi

Bagi gereja, pertemuan ini menegaskan pentingnya kesaksian bersama dalam menghadapi persoalan perdamaian. Gereja dipanggil bukan hanya untuk menyampaikan ajaran tentang perdamaian, tetapi juga menghadirkan solidaritas dan tindakan nyata bagi mereka yang terdampak konflik, migrasi, dan krisis kemanusiaan.

Relevansi tersebut juga penting bagi pendidikan teologi. Pembelajaran teologi perlu membantu mahasiswa memahami hubungan antara iman, kehidupan sosial, dan tanggung jawab publik. Perdamaian tidak cukup dibahas sebagai konsep normatif; perdamaian juga perlu dikaji melalui pengalaman komunitas, dinamika dialog, persoalan migrasi, peran kaum muda, dan tantangan hidup berdampingan.

Pertemuan di Assisi memberikan gambaran bahwa gereja dan komunitas agama dapat berkontribusi melalui beberapa jalur. Pertama, gereja dapat membangun ruang dialog yang mempertemukan kelompok-kelompok berbeda. Kedua, gereja dapat menyuarakan solidaritas terhadap korban kekerasan dan berbagai krisis kemanusiaan. Ketiga, gereja dapat mendampingi masyarakat melalui tindakan nyata yang mendukung rekonsiliasi dan kehidupan bersama.

Kontribusi tersebut menuntut kerendahan hati. Tidak ada satu komunitas yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan perdamaian sendirian. Karena itu, kerja sama lintas agama, masyarakat sipil, lembaga publik, dan kelompok budaya menjadi bagian penting dari kesaksian perdamaian.

Penutupan dijadwalkan pada 27 Oktober

Setelah forum-forum tematik berlangsung pada 26–27 Oktober, rangkaian pertemuan dijadwalkan ditutup di Assisi pada 27 Oktober 2026. Penutupan tersebut menjadi bagian dari keseluruhan perjalanan pertemuan yang dimulai dari sidang pembukaan di UmbriaFiere pada 25 Oktober.

Pertemuan Internasional untuk Perdamaian di Assisi menunjukkan bahwa seruan perdamaian perlu disertai perjumpaan, doa, dialog, solidaritas, dan tindakan. Peringatan 40 tahun pertemuan doa lintas agama di Assisi juga menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali peran komunitas agama dalam merawat harapan dan membangun kehidupan yang bebas dari kekerasan.

Informasi Terkini

Berita Kampus Terbaru

Informasi terbaru mengenai kegiatan akademik, aktivitas institusi, dan perkembangan Sekolah Tinggi Teologi Real Jakarta.